rs jih
RS Jih: Perintis Modernisme Korea dan Sintesis Seni dan Kehidupan
RS Jih, sebuah nama yang mungkin kurang familiar di dunia seni Barat dibandingkan beberapa rekan seangkatannya di Korea, berdiri sebagai tokoh penting dalam perkembangan seni modern di Korea. Dia bukan sekedar pelukis; dia adalah seorang polimatik, seorang visioner yang mengaburkan batas antara disiplin seni dan secara aktif berupaya mengintegrasikan seni ke dalam tatanan kehidupan sehari-hari. Karyanya meliputi lukisan, patung, desain grafis, arsitektur, dan perencanaan kota, semuanya disatukan oleh kepekaan estetika yang berbeda yang berakar pada tradisi Korea sambil merangkul dinamisme modernisme internasional.
Lahir pada tahun 1917 di wilayah yang sekarang disebut Korea Utara, kehidupan awal Jih dibentuk oleh gejolak politik semenanjung Korea di bawah pemerintahan kolonial Jepang. Pengalaman ini menanamkan dalam dirinya rasa identitas nasional yang mendalam dan keinginan untuk berkontribusi pada revitalisasi budaya tanah airnya. Ia menerima pelatihan seni formal di Jepang, belajar di Sekolah Seni Rupa Tokyo yang bergengsi (sekarang Universitas Seni Tokyo). Paparan terhadap modernisme Jepang, khususnya gerakan yang diilhami Bauhaus, terbukti bersifat formatif. Ia menyerap prinsip-prinsip fungsionalisme, abstraksi geometris, dan integrasi seni dan teknologi, namun yang terpenting, ia berusaha menyesuaikan prinsip-prinsip ini dengan konteks Korea.
Sekembalinya ke Korea setelah Perang Dunia II, Jih menemukan negara yang sedang bergulat dengan perpecahan dan pembangunan kembali. Ia menyadari adanya kebutuhan mendesak akan bahasa visual baru yang dapat mengungkapkan harapan dan kegelisahan masyarakat yang berubah dengan cepat. Dia menolak gaya akademis yang berlaku dan menganut abstraksi sebagai sarana untuk menyampaikan emosi dan ide yang kompleks. Lukisan awalnya bercirikan bentuk geometris yang berani, warna-warna cerah, dan komposisi dinamis. Ia bereksperimen dengan berbagai media, termasuk cat minyak, guas, dan kolase, sering kali menggunakan bahan tradisional Korea seperti hanji (kertas Korea) dan tinta.
Salah satu ciri khas praktik artistik Jih adalah komitmennya terhadap seni publik. Ia percaya bahwa seni tidak boleh terbatas pada galeri dan museum saja, namun harus dapat diakses oleh semua orang. Ia secara aktif mencari peluang untuk membuat mural, patung, dan instalasi di ruang publik, yang bertujuan untuk mengubah lingkungan perkotaan dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Muralnya, yang sering kali menggabungkan pola abstrak dan motif simbolis, menghiasi dinding gedung pemerintah, sekolah, dan rumah sakit. Karya-karya ini tidak hanya berfungsi sebagai penambah estetika tetapi juga sebagai pernyataan kuat kebanggaan nasional dan identitas budaya.
Upaya arsitektur Jih semakin menunjukkan pendekatan holistiknya terhadap seni dan desain. Dia merancang beberapa bangunan, termasuk tempat tinggal pribadi dan ruang komersial, yang memadukan prinsip arsitektur modern dengan elemen tradisional Korea. Ia menekankan penggunaan material alami, seperti kayu dan batu, serta menggabungkan halaman dan taman untuk menciptakan lingkungan hidup yang harmonis. Desain arsitekturalnya dicirikan oleh garis-garis yang bersih, tata ruang yang fungsional, dan kepekaan terhadap lanskap sekitarnya. Ia percaya bahwa arsitektur harus lebih dari sekedar tempat berlindung; itu harus menjadi karya seni yang meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Keterlibatannya dalam desain grafis juga sama pentingnya. Di Korea pascaperang yang ingin melakukan modernisasi, Jih menyadari kekuatan komunikasi visual. Ia merancang poster, brosur, dan logo untuk berbagai organisasi, menggunakan estetika bersih dan modern yang mencerminkan semangat kemajuan. Desain grafisnya dicirikan oleh kejelasan, kesederhanaan, dan penggunaan tipografi dan citra yang berani. Ia memahami pentingnya komunikasi visual yang efektif dalam membentuk opini publik dan mendorong perubahan sosial. Ia melihat desain grafis sebagai alat yang ampuh untuk pembangunan bangsa dan pengembangan budaya.
Perang Korea (1950-1953) sangat mempengaruhi lintasan artistik Jih. Kehancuran dan penderitaan yang ia saksikan selama perang meninggalkan bekas yang tak terhapuskan dalam jiwanya. Karya seninya menjadi lebih muram dan introspektif, mencerminkan trauma dan kehilangan yang dialami masyarakat Korea. Dia bereksperimen dengan bentuk abstraksi baru, menggunakan warna yang lebih gelap dan komposisi yang lebih terfragmentasi. Karya-karyanya yang berhubungan dengan perang sering kali menggambarkan adegan kehancuran dan pengungsian, namun juga menyampaikan rasa ketahanan dan harapan. Ia berusaha untuk menangkap kesedihan dan tekad kolektif sebuah negara yang berjuang untuk membangun kembali dari abu perang.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, karya Jih berkembang lebih jauh, mencerminkan pesatnya industrialisasi dan urbanisasi di Korea Selatan. Ia menjadi semakin tertarik pada hubungan antara teknologi dan masyarakat, dan karya seninya mulai memasukkan unsur Pop Art dan Op Art. Ia bereksperimen dengan material baru, seperti plastik dan logam, serta menciptakan patung dan instalasi yang mengeksplorasi tema konsumerisme dan budaya massa. Karya-karyanya pada periode ini sering kali dicirikan oleh warna-warna cerah, pola geometris, dan kesan ceria. Ia berupaya menangkap energi dan dinamisme masyarakat yang mengalami transformasi pesat.
Meskipun ia menganut modernisme internasional, Jih tetap berkomitmen pada tradisi Korea. Ia percaya bahwa inovasi seni sejati hanya bisa muncul dari pemahaman dan apresiasi mendalam terhadap warisan budaya diri sendiri. Ia sering memasukkan motif dan teknik tradisional Korea ke dalam karyanya, menciptakan sintesis unik antara estetika Timur dan Barat. Lukisannya, misalnya, sering menampilkan rujukan halus pada lukisan pemandangan dan kaligrafi Korea. Patung-patungnya menggunakan teknik pengerjaan kayu tradisional Korea. Ia melihat dirinya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, berjuang untuk menciptakan seni modern Korea yang inovatif dan berakar kuat pada warisan budayanya.
Pengaruh Jih terhadap artis Korea generasi berikutnya tidak dapat disangkal. Dia membuka jalan bagi penerimaan seni abstrak di Korea dan menginspirasi banyak seniman untuk mengeksplorasi bentuk ekspresi baru. Komitmennya terhadap seni publik dan keyakinannya terhadap tanggung jawab sosial seniman juga mempunyai dampak yang bertahan lama. Ia dikenang tidak hanya sebagai seniman berbakat tetapi juga sebagai seorang visioner yang berupaya mengubah masyarakat Korea melalui seni dan desain. Upayanya untuk mengintegrasikan seni ke dalam kehidupan sehari-hari dan dedikasinya untuk menciptakan estetika Korea modern telah meninggalkan warisan abadi. Ia tetap menjadi tokoh penting dalam sejarah seni Korea, seorang pionir yang membantu membentuk lanskap budaya suatu negara yang mengalami perubahan besar. Karyanya terus menginspirasi dan menantang para seniman dan desainer saat ini, mengingatkan kita akan kekuatan seni untuk mengubah dunia kita. Dedikasinya untuk menjembatani tradisi dan modernitas, ditambah dengan komitmennya terhadap keterlibatan sosial, memperkuat posisinya sebagai landasan modernisme Korea. Karya-karyanya menjadi bukti potensi seni tidak hanya mencerminkan tetapi juga membentuk masyarakat yang dihuninya.

